Government Help for Women Entrepreneurs
The United States government has several organizations focused on women business owners. Navigate them with this quick guide.
July 31, 2006
Print ShareThis Get the Mag Weekly Updates [-] Text Size [+]
* National Women's Business Council: The NWBC is a bi-partisan federal advisory council that serves as an independent policy advisor to the President, Congress and the SBA on economic issues of importance to women business owners. You'll find research, news, and conference and event listings on the site.
* Office of Women's Business Ownership: OWBO is a part of the SBA. Each SBA district office has a women's business ownership representative and there are women's business centers in nearly every state. OWBO also offers business training and technical assistance programs; provides access to credit and capital, federal contracts and international trade opportunities; and provides a nationwide network of mentoring roundtables. At OWBO's Online Women's Business Center, you can find lists of local reps and offices, as well as the business management information the SBA provides.
* Women-21.gov: This site is a joint effort of the Department of Labor, the SBA and other partners. It brings together resources, articles, news, networking opportunities for women entrepreneurs.
* WomenBiz.gov: This site is the "gateway for women-owned businesses selling to the government." It has useful links, event listings, and a step-by-step guide to government procurement.
Print ShareThis Get the Mag Weekly Updates
Marketplace
Learn how to distribute a press release
Sprint
Get the Now widget
Try our new online printing. theupsstore.com/print
RSS FEED
Today on Entrepreneur
* Physical Fitness Is Good for Business
* Human Capital Predictions for 2010
* Use Coupons to Lure Last-Minute Buyers
* 10 Reasons Your Marketing Messages Stink
* Avoid Stupid Sales Gimmicks
More Stories »
Entrepreneur Connect
What makes a good client gift?
What guidelines do you follow when buying gifts for your clients? Have you ever received an unusual or inappropriate gift?
Resource Centers
Where Business Gets Done
Revisit the lost art of the meeting, the pitch, the presentation and the all important handshake to close the deal.
Insurance Center
Review your company's needs, save on workers' comp, protect your business from lawsuits and more.
Startup How-To Guides
Step-by-step guides to launching your business.
Commercial Vehicle Center
Get the right ride for your business.
Find Pre-Screened Vendors
* Web Design
* Online Marketing
* Credit Card Processing
* Phone systems / VOIP
* Telemarketing
* Direct mail
* Merchant Cash Advance Loan
View all 80 categories »
Sign Up for the Latest in:
e-Business & Technology
Franchise News
Business Book Sampler
Starting a Business
Sales & Marketing
Growing a Business
E-mail*
Zip Code*
Small Business - Home | Entrepreneur Connect | Entrepreneur Assist | Women Entrepreneurs | Business Startup Guides | Business Bookstore | En Español
Magazine Subscriptions | Contact Us | Newsletters | Affiliate Programs | Advertising Info | Press Releases | Special Offers | RSS Feeds | Reprints & Permissions
Copyright © 2009 Entrepreneur Media, Inc. All rights reserved. Privacy Policy
Laman
Advertisement
UK Writing & Research Co.
www.writingpro.co.uk/essaywriting
Anda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
Best Rates & 100% Confidential!
Minggu, 29 November 2009
Selasa, 04 Agustus 2009
Teleskop
Teleskop
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Teleskop atau teropong adalah instrumen pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang diamati[1]. Teleskop merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi. Jenis teleskop (biasanya optik) yang dipakai untuk maksud bukan astronomis antara lain adalah transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Teleskop memperbesar ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.
Galileo diakui menjadi yang pertama dalam menggunakan teleskop untuk maksud astronomis. Pada awalnya teleskop dibuat hanya dalam rentang panjang gelombang tampak saja (seperti yang dibuat oleh Galileo, Newton, Foucault, Hale, Meinel, dan lainnya), kemudian berkembang ke panjang gelombang radio setelah tahun 1945, dan kini teleskop meliput seluruh spektrum elektromagnetik setelah makin majunya penjelajahan angkasa setelah tahun 1960.
Penemuan atau prediksi akan adanya pembawa informasi lain (gelombang gravitasi dan neutrino) membuka spekulasi untuk membangun sistem deteksi bentuk energi tersebut dengan peranan yang sama dengan teleskop klasik. Kini sudah umum untuk menyebut teleskop gelombang gravitasi atau pun teleskop partikel berenergi tinggi.
[sunting] Sejarah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata bugil.
Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya .
[sunting] Referensi
1. ^ Léna, Pierre; François Lebrun, François Mignard (1998). "4.3", Observational Astrophysics. Springer-Verlag, 133. ISBN 3-540-63482-7.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop"
Kategori: Teleskop | Optik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Teleskop atau teropong adalah instrumen pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang diamati[1]. Teleskop merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi. Jenis teleskop (biasanya optik) yang dipakai untuk maksud bukan astronomis antara lain adalah transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Teleskop memperbesar ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.
Galileo diakui menjadi yang pertama dalam menggunakan teleskop untuk maksud astronomis. Pada awalnya teleskop dibuat hanya dalam rentang panjang gelombang tampak saja (seperti yang dibuat oleh Galileo, Newton, Foucault, Hale, Meinel, dan lainnya), kemudian berkembang ke panjang gelombang radio setelah tahun 1945, dan kini teleskop meliput seluruh spektrum elektromagnetik setelah makin majunya penjelajahan angkasa setelah tahun 1960.
Penemuan atau prediksi akan adanya pembawa informasi lain (gelombang gravitasi dan neutrino) membuka spekulasi untuk membangun sistem deteksi bentuk energi tersebut dengan peranan yang sama dengan teleskop klasik. Kini sudah umum untuk menyebut teleskop gelombang gravitasi atau pun teleskop partikel berenergi tinggi.
[sunting] Sejarah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata bugil.
Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya .
[sunting] Referensi
1. ^ Léna, Pierre; François Lebrun, François Mignard (1998). "4.3", Observational Astrophysics. Springer-Verlag, 133. ISBN 3-540-63482-7.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop"
Kategori: Teleskop | Optik
Selasa, 14 Juli 2009
Upaya pengembangan potensi obyek wisata bukit cinta di kawasan Rawapening. [permalink]
SIMPLE | EXTENDED
Dalam usaha untuk mengembangkan potensi obyek wisata Bukit Cinta agar
menarik wisatawan untuk berkunjung dijumpai banyak kendala Kendala-kendala
tersebut adalah kurangnya fasilitas di bidang prasarana dan sarana, keberadaan
tanaman enceng gondok sebagai penghambat pengembangan Rawapening yang merupakan obyek wisata alam pendukung Bukit Cinta.
Tujuan penelitian adalah mencari datadata mengenai fakta-fakta di lapangan, seperti keadaan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening serta upaya pengembangan yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada,
sehingga nantinya fasilitas-fasilitas yang dimiliki obyek waisata tersebut se -
suai dengan tuntutan yang diharapkan oleh wisatawan terhadap suatu obyek wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif malalui studi litemtur, observasi, langsung ke lokasi penelitian dan wawancara dengan para pakar, masyarakat setempat, dan pengunjung. Pengolahan data yang dilakukan adalah secara deskriptif dan analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perbaikan pada fasilitas-
fasilitas yang ada serta pembangunan fasilitas-fasilitas baru pada obyek wisata
Bukit Cinta, dapat menarik wisatawan untuk berkunjung, selain itu keberadaan
enceng gondok ternyata dapat menambah penghasilan penduduk setempat bahkan dapat menambah devisa negara dimana dari batang tanaman ini dapat dibuat kerajinan yang sampai saat ini sudah mencapai ekspor ke negara lain.
Untuk mewujudkan rencana pengembangan ini perlu adanya kerjasama dari pihak pemerintah, swasta dan masyarakat setempat sehingga setelah dikembangkan diharapkan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening yang menjadi daya tarik utamanya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Author
• (91397090) CHRISSANDY EKA PUTRA
• (91398021) CAHYONO LORIANTO
Contributor
• (86-008) Yacintha Yoranouw Suryawijaya
• (94-030) Tio Sally Puspasari
Publisher
Universitas Kristen Petra
Year : 2001
Subject
1. ARCHITECTURE AND CHILDREN
2. BUILDINGS-AIRTIGHTNESS
Keyword
tourist, trade, rawapening, travel
Category
d3 - Tugas Akhir (Program Pend. Kepariwisataan)
Language
Indonesian
Rights
Tugas Akhir No. 449/Par//2001; Cahyono Lorianto (91398021), Chrissandy Eka Putra (91397090)
The resource(s) is/are owned by the Creator/Contributor.Reproduction & distribution for non-commercial purposes is permitted provided that the credit for the Creator/Contributor and the source are explicitly stated,and no alteration are made
Alternative Description
Dalam usaha untuk mengembangkan potensi obyek wisata Bukit Cinta agar
menarik wisatawan untuk berkunjung dijumpai banyak kendala Kendala-kendala
tersebut adalah kurangnya fasilitas di bidang prasarana dan sarana, keberadaan
tanaman enceng gondok sebagai penghambat pengembangan Rawapening yang merupakan obyek wisata alam pendukung Bukit Cinta.
Tujuan penelitian adalah mencari datadata mengenai fakta-fakta di lapangan, seperti keadaan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening serta upaya pengembangan yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada,
sehingga nantinya fasilitas-fasilitas yang dimiliki obyek waisata tersebut se -
suai dengan tuntutan yang diharapkan oleh wisatawan terhadap suatu obyek wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif malalui studi litemtur, observasi, langsung ke lokasi penelitian dan wawancara dengan para pakar, masyarakat setempat, dan pengunjung. Pengolahan data yang dilakukan adalah secara deskriptif dan analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perbaikan pada fasilitas-
fasilitas yang ada serta pembangunan fasilitas-fasilitas baru pada obyek wisata
Bukit Cinta, dapat menarik wisatawan untuk berkunjung, selain itu keberadaan
enceng gondok ternyata dapat menambah penghasilan penduduk setempat bahkan dapat menambah devisa negara dimana dari batang tanaman ini dapat dibuat kerajinan yang sampai saat ini sudah mencapai ekspor ke negara lain.
Untuk mewujudkan rencana pengembangan ini perlu adanya kerjasama dari pihak pemerintah, swasta dan masyarakat setempat sehingga setelah dikembangkan diharapkan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening yang menjadi daya tarik utamanya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Catalog Number : 84
DDC Number : 338.4791
Type : Text
SIMPLE | EXTENDED
Dalam usaha untuk mengembangkan potensi obyek wisata Bukit Cinta agar
menarik wisatawan untuk berkunjung dijumpai banyak kendala Kendala-kendala
tersebut adalah kurangnya fasilitas di bidang prasarana dan sarana, keberadaan
tanaman enceng gondok sebagai penghambat pengembangan Rawapening yang merupakan obyek wisata alam pendukung Bukit Cinta.
Tujuan penelitian adalah mencari datadata mengenai fakta-fakta di lapangan, seperti keadaan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening serta upaya pengembangan yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada,
sehingga nantinya fasilitas-fasilitas yang dimiliki obyek waisata tersebut se -
suai dengan tuntutan yang diharapkan oleh wisatawan terhadap suatu obyek wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif malalui studi litemtur, observasi, langsung ke lokasi penelitian dan wawancara dengan para pakar, masyarakat setempat, dan pengunjung. Pengolahan data yang dilakukan adalah secara deskriptif dan analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perbaikan pada fasilitas-
fasilitas yang ada serta pembangunan fasilitas-fasilitas baru pada obyek wisata
Bukit Cinta, dapat menarik wisatawan untuk berkunjung, selain itu keberadaan
enceng gondok ternyata dapat menambah penghasilan penduduk setempat bahkan dapat menambah devisa negara dimana dari batang tanaman ini dapat dibuat kerajinan yang sampai saat ini sudah mencapai ekspor ke negara lain.
Untuk mewujudkan rencana pengembangan ini perlu adanya kerjasama dari pihak pemerintah, swasta dan masyarakat setempat sehingga setelah dikembangkan diharapkan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening yang menjadi daya tarik utamanya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Author
• (91397090) CHRISSANDY EKA PUTRA
• (91398021) CAHYONO LORIANTO
Contributor
• (86-008) Yacintha Yoranouw Suryawijaya
• (94-030) Tio Sally Puspasari
Publisher
Universitas Kristen Petra
Year : 2001
Subject
1. ARCHITECTURE AND CHILDREN
2. BUILDINGS-AIRTIGHTNESS
Keyword
tourist, trade, rawapening, travel
Category
d3 - Tugas Akhir (Program Pend. Kepariwisataan)
Language
Indonesian
Rights
Tugas Akhir No. 449/Par//2001; Cahyono Lorianto (91398021), Chrissandy Eka Putra (91397090)
The resource(s) is/are owned by the Creator/Contributor.Reproduction & distribution for non-commercial purposes is permitted provided that the credit for the Creator/Contributor and the source are explicitly stated,and no alteration are made
Alternative Description
Dalam usaha untuk mengembangkan potensi obyek wisata Bukit Cinta agar
menarik wisatawan untuk berkunjung dijumpai banyak kendala Kendala-kendala
tersebut adalah kurangnya fasilitas di bidang prasarana dan sarana, keberadaan
tanaman enceng gondok sebagai penghambat pengembangan Rawapening yang merupakan obyek wisata alam pendukung Bukit Cinta.
Tujuan penelitian adalah mencari datadata mengenai fakta-fakta di lapangan, seperti keadaan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening serta upaya pengembangan yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada,
sehingga nantinya fasilitas-fasilitas yang dimiliki obyek waisata tersebut se -
suai dengan tuntutan yang diharapkan oleh wisatawan terhadap suatu obyek wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif malalui studi litemtur, observasi, langsung ke lokasi penelitian dan wawancara dengan para pakar, masyarakat setempat, dan pengunjung. Pengolahan data yang dilakukan adalah secara deskriptif dan analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perbaikan pada fasilitas-
fasilitas yang ada serta pembangunan fasilitas-fasilitas baru pada obyek wisata
Bukit Cinta, dapat menarik wisatawan untuk berkunjung, selain itu keberadaan
enceng gondok ternyata dapat menambah penghasilan penduduk setempat bahkan dapat menambah devisa negara dimana dari batang tanaman ini dapat dibuat kerajinan yang sampai saat ini sudah mencapai ekspor ke negara lain.
Untuk mewujudkan rencana pengembangan ini perlu adanya kerjasama dari pihak pemerintah, swasta dan masyarakat setempat sehingga setelah dikembangkan diharapkan obyek wisata Bukit Cinta dan Rawapening yang menjadi daya tarik utamanya dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Catalog Number : 84
DDC Number : 338.4791
Type : Text
Selasa, 16 Juni 2009
Penelitian Grounded
Teknik Penelitian Grounded Teory
Keberhasilan penelitian kualitatif banyak ditentukan pada pemilihan teknik atau metode yang representatif dengan kondisi lapangan melalui data yang berhasil dikumpulkan. Pada bagian ini akan diuraikan tentang teknik penelitian dengan menggunakan metode grounded theory, dan secara sederhana teknik penelitian dapat diuraikan oleh fase-fase berikut:[1]
I. Fase Desain Penelitian
a. Tinjauan ulang literatur teknis
Pada fase ini dilakukan aktifitas definisi research question dan definisi dari konstruk apriori. Secara rasional diadakan upaya memfokuskan masalah serta membatasi variasi yang tidak relevan serta mempertajam validitas eksternal.
b. Pemilihan kasus
Kasus yang dipilih untuk contoh bersifat teoritis, bukan acak. Dimana hal ini dilakukan sebagai upaya memfokuskan pada kasus yang bermanfaat secara teoritis.
II. Fase Pengumpulan Data
Seperti halnya penelitian kualitatif yang lain, penelitian ini menggunakan sampel bertujuan atau menggunakan teknik purposive sampling. Dimana sampel tersebut ditetapkan dengan karakteristik tertentu dengan tujuan untuk merinci kekhususan yang ada dengan ramuan konteks yang unik. Maksud lain dari sampel ini adalah menggali informasi yang menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul di lapangan. Untuk itu dilakukan:
a. Membuat protokol pengumpulan data yang akurat.
Adapun aktifitas yang dilakukan adalah membuat basis data kasus dengan menggunakan berbagai metode pengumpulan data, baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk meningkatkan realibilitas dan validitas konstruk, memperkuat keberalasan teori dan validitas internal srta memperkuat berbagai sinergi bukti yang ditemukan.
Untuk sumber dan jenis data yang diperlukan
1. Data Primer
§ Kata-kata, ekspresi dan Tindakan
Sumber dan jenis kata primer penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subjek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data. Sedangkan untuk pengambilan data dilakukan dengan bantuan catatan lapangan, bantuan foto atau bila memungkinkan dengan bantuan rekaman suara tape recorder dan observasi mendalam oleh peneliti.
2. Data Sekunder
* Sumber Tertulis
Berbagai sumber tertulis yang memungkinkan dapat dimanfaatkan dalam penelitian ini akan digunakan semaksimal mungkin demi mendorong keberhasilan penelitian ini. Diantaranya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Pada fungsi yang optimal dapat memberikan pemahaman teoritik dan metodologi yang melandasi dalam melakukan penelitian yang benar.
* Data statistik
Data statistik digunakan untuk memperkaya informasi baik yang berlaku umum maupun yang berlaku spesifik. Dengan data statistik ini kita juga bisa membuat pemahaman atau kecenderungan-kecenderungan yang nantinya bisa membandingkan dengan keadaan yang berada pada kenyaataan (grass roots) pada saat penelitian.
b. Masuk ke Lapangan
Di lapangan akan dialami tumpang- tindih antara pengumpulan data dan analisis data karena keduanya di laksanakan secara terus menerus dan secara bersamaan. Di sini metode pengumpulan data menggunakan metode yang fleksibel dan oportunistik. Semua ini dilaksanakan agar proses analisis bisa cepat dan mempermudah peneliti memanfaatkan tema dan keistimewaan kasus yang muncul.
Data diperoleh dari:
1. Observasi
Observasi dilakukan sebelum dan selama penelitian ini diberlangsung yang meliputi gambaran umum, suasana kehidupan sosial, kondisi fisik, kondisi ekonomi dan kondisi sosial yang terjadi.
2. Studi Dokumentasi
Informasi, data yang diperlukan dalam penelitian ini juga kami peroleh dari studi dokumentasi. Sebelum penelitian lapangan, peneliti telah melakukan telaah terhadap buku literatur, majalah, jurnal, hasil seminar, artikel baik yang tersedia dalam media on-line (internet) maupun yang ada dalam perpustakaan.
3. Wawancara Mendalam
Untuk wawancara mendalam di lakukan secara langsung dengan informan secara terpisah di lingkungannya masing-masing. Wawancara akan dilakukan dengan informan yang dianggap berkompeten dan mewakili.
III. Fase Penyusunan Data
Pada fase penyusunan data ini dilakukan penyusunan event secara kronologis atau berurutan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memudahkan analisis data dan evaluasi proses.
IV. Fase Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan kepada orang lain. Adapun untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning) (Muhadjir,2002 :142).
Dalam metode grounded theory terdapat beberapa tahap dalam melaksanakan analisa data, yaitu:
(a). Tahap pengolahan awal, meliputi: Open coding yaitu membuat konsep, kategori dan properti; Axial coding yaitu mengembangkan hubungan antara kategori dan sub kategori, Selective Coding yaitu mengintegrasikan kategori untuk membangun kerangka kerja teoritis.
(b). Tahap Percontohan teoritis yaitu melakukan replikasi teoritis, terus diulang lagi dari langkah kedua hingga teori matang/jenuh. Pada tahap dilakukan konfirmasi, perluasan dan pertajaman kerangka kerja teoritis.
(c). Tahap akhir dari analisis, disini diadakan pematangan teori lagi kalau mungkin. Dimana menghentikan proses apabila peningkatan atau pertambahan yang diperoleh tidak berarti.
V. Fase Perbandingan Literatur
Dalam fase ini diadakan perbandingan teori yang muncul dari hasil penelitian dengan teori yang ada dalam literatur. Di sini dilakukan kegiatan membandingkan dengan kerangka kerja yang bertentangan dan kerangka kerja yang selaras. Perbandingan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan definisi konstruk dan meningkatkan validitas internal serta meningkatkan validitas eksternal.
Kesimpulan
Dari berbagai fase tahapan di atas, kesan pertama memang terasa rumit, namun kalau kita sudah mendalaminya sebagai bagian dari kegiatan penelitian, maka akan terasa mudah. Hal ini dikarenakan setiap tahapan merupakan rangkaian logika keilmuan yang mengalir berdasarkan penalaran rasional. Secara tidak langsung setiap tahapan akan menggiring kita pada logika penelitian yang sistematis. Menurut pengalaman saya, metode ini sangat menarik dan menantang, bagaimana dengan anda?. Selamat mencoba!!
[1] Agus Salim (ed.), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001.
Keberhasilan penelitian kualitatif banyak ditentukan pada pemilihan teknik atau metode yang representatif dengan kondisi lapangan melalui data yang berhasil dikumpulkan. Pada bagian ini akan diuraikan tentang teknik penelitian dengan menggunakan metode grounded theory, dan secara sederhana teknik penelitian dapat diuraikan oleh fase-fase berikut:[1]
I. Fase Desain Penelitian
a. Tinjauan ulang literatur teknis
Pada fase ini dilakukan aktifitas definisi research question dan definisi dari konstruk apriori. Secara rasional diadakan upaya memfokuskan masalah serta membatasi variasi yang tidak relevan serta mempertajam validitas eksternal.
b. Pemilihan kasus
Kasus yang dipilih untuk contoh bersifat teoritis, bukan acak. Dimana hal ini dilakukan sebagai upaya memfokuskan pada kasus yang bermanfaat secara teoritis.
II. Fase Pengumpulan Data
Seperti halnya penelitian kualitatif yang lain, penelitian ini menggunakan sampel bertujuan atau menggunakan teknik purposive sampling. Dimana sampel tersebut ditetapkan dengan karakteristik tertentu dengan tujuan untuk merinci kekhususan yang ada dengan ramuan konteks yang unik. Maksud lain dari sampel ini adalah menggali informasi yang menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul di lapangan. Untuk itu dilakukan:
a. Membuat protokol pengumpulan data yang akurat.
Adapun aktifitas yang dilakukan adalah membuat basis data kasus dengan menggunakan berbagai metode pengumpulan data, baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk meningkatkan realibilitas dan validitas konstruk, memperkuat keberalasan teori dan validitas internal srta memperkuat berbagai sinergi bukti yang ditemukan.
Untuk sumber dan jenis data yang diperlukan
1. Data Primer
§ Kata-kata, ekspresi dan Tindakan
Sumber dan jenis kata primer penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subjek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data. Sedangkan untuk pengambilan data dilakukan dengan bantuan catatan lapangan, bantuan foto atau bila memungkinkan dengan bantuan rekaman suara tape recorder dan observasi mendalam oleh peneliti.
2. Data Sekunder
* Sumber Tertulis
Berbagai sumber tertulis yang memungkinkan dapat dimanfaatkan dalam penelitian ini akan digunakan semaksimal mungkin demi mendorong keberhasilan penelitian ini. Diantaranya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Pada fungsi yang optimal dapat memberikan pemahaman teoritik dan metodologi yang melandasi dalam melakukan penelitian yang benar.
* Data statistik
Data statistik digunakan untuk memperkaya informasi baik yang berlaku umum maupun yang berlaku spesifik. Dengan data statistik ini kita juga bisa membuat pemahaman atau kecenderungan-kecenderungan yang nantinya bisa membandingkan dengan keadaan yang berada pada kenyaataan (grass roots) pada saat penelitian.
b. Masuk ke Lapangan
Di lapangan akan dialami tumpang- tindih antara pengumpulan data dan analisis data karena keduanya di laksanakan secara terus menerus dan secara bersamaan. Di sini metode pengumpulan data menggunakan metode yang fleksibel dan oportunistik. Semua ini dilaksanakan agar proses analisis bisa cepat dan mempermudah peneliti memanfaatkan tema dan keistimewaan kasus yang muncul.
Data diperoleh dari:
1. Observasi
Observasi dilakukan sebelum dan selama penelitian ini diberlangsung yang meliputi gambaran umum, suasana kehidupan sosial, kondisi fisik, kondisi ekonomi dan kondisi sosial yang terjadi.
2. Studi Dokumentasi
Informasi, data yang diperlukan dalam penelitian ini juga kami peroleh dari studi dokumentasi. Sebelum penelitian lapangan, peneliti telah melakukan telaah terhadap buku literatur, majalah, jurnal, hasil seminar, artikel baik yang tersedia dalam media on-line (internet) maupun yang ada dalam perpustakaan.
3. Wawancara Mendalam
Untuk wawancara mendalam di lakukan secara langsung dengan informan secara terpisah di lingkungannya masing-masing. Wawancara akan dilakukan dengan informan yang dianggap berkompeten dan mewakili.
III. Fase Penyusunan Data
Pada fase penyusunan data ini dilakukan penyusunan event secara kronologis atau berurutan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memudahkan analisis data dan evaluasi proses.
IV. Fase Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan kepada orang lain. Adapun untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning) (Muhadjir,2002 :142).
Dalam metode grounded theory terdapat beberapa tahap dalam melaksanakan analisa data, yaitu:
(a). Tahap pengolahan awal, meliputi: Open coding yaitu membuat konsep, kategori dan properti; Axial coding yaitu mengembangkan hubungan antara kategori dan sub kategori, Selective Coding yaitu mengintegrasikan kategori untuk membangun kerangka kerja teoritis.
(b). Tahap Percontohan teoritis yaitu melakukan replikasi teoritis, terus diulang lagi dari langkah kedua hingga teori matang/jenuh. Pada tahap dilakukan konfirmasi, perluasan dan pertajaman kerangka kerja teoritis.
(c). Tahap akhir dari analisis, disini diadakan pematangan teori lagi kalau mungkin. Dimana menghentikan proses apabila peningkatan atau pertambahan yang diperoleh tidak berarti.
V. Fase Perbandingan Literatur
Dalam fase ini diadakan perbandingan teori yang muncul dari hasil penelitian dengan teori yang ada dalam literatur. Di sini dilakukan kegiatan membandingkan dengan kerangka kerja yang bertentangan dan kerangka kerja yang selaras. Perbandingan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan definisi konstruk dan meningkatkan validitas internal serta meningkatkan validitas eksternal.
Kesimpulan
Dari berbagai fase tahapan di atas, kesan pertama memang terasa rumit, namun kalau kita sudah mendalaminya sebagai bagian dari kegiatan penelitian, maka akan terasa mudah. Hal ini dikarenakan setiap tahapan merupakan rangkaian logika keilmuan yang mengalir berdasarkan penalaran rasional. Secara tidak langsung setiap tahapan akan menggiring kita pada logika penelitian yang sistematis. Menurut pengalaman saya, metode ini sangat menarik dan menantang, bagaimana dengan anda?. Selamat mencoba!!
[1] Agus Salim (ed.), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001.
Langganan:
Komentar (Atom)